Documentary

Some videos and photos documentary from Gabriel’s Exhibition

UPCOMMING EXHIBITION

UPCOMMING EXHIBITION

Art Jakarta Gardens

7 - 10 May 2026

Hutan Kota Plataran

Jakarta

Adu Manis — dalam tradisi pertukangan, istilah ini merujuk pada teknik menyambung dua bidang kayu yang dipotong 45 derajat, menciptakan sambungan sempurna 90 derajat. Dalam konteks pameran ini, frasa tersebut menjadi metafora untuk pertemuan ide, material, dan persepsi: bagaimana ketegangan antar unsur, material, lapisan dan struktur yang saling "bergesekan" justru melahirkan harmoni yang terasa “manis".

Pameran ini juga menjadi refleksi pemikiran Sanento Yuliman (Dua Seni Rupa), yang menegaskan bahwa seni Indonesia harus dibaca melalui kerangka lokalnya sendiri, tanpa tunduk pada wacana Barat. Karya non-figuratif dalam Adu Manis tidak bisa lagi dihadirkan sebagai "seni untuk seni", melainkan cermin kompleksitas zaman kini — di mana makna tidak lagi linier, dan harmoni lahir dari keberanian menerima paradoks.

News

Ada suatu masa dalam sejarah seni rupa Indonesia yang jejaknya masih terasa hingga kini. Masa itu diwarnai oleh kemunculan Gerakan Seni Rupa Baru (GSRB) pada pertengahan 1970-an. Sebagai respons terhadap batasan-batasan seni rupa tradisional, gerakan ini hadir dengan semangat pembaruan, mendobrak dominasi lukisan, patung, dan grafis konvensional. Awal mula kelahirannya dapat ditelusuri dari "Pernyataan Desember Hitam 1974" yang menusuk kesadaran, serta polemik sengit antara Oesman Effendi dan S. Sudjojono tentang eksistensi seni lukis Indonesia.

Pameran Adu Manis: Merayakan Museum Khayal

Bisnis.com, JAKARTA – Gabriel Aries menggelar pameran tunggal bertajuk Sela Sawala pada 24 November-9 Desember 2018 di CGartspace, Jakarta. Seniman patung yang akrab disapa Jibril ini mengusung konsep oposisi biner dalam karyanya kali ini. Karya seni patung Sela Sawala adalah paduan kata bahasa Indonesia yang ditemukan Jibril untuk mewakili karyanya. 

Menemukan Ketenangan dari Pameran Sela Sawala

Gabriel Aries Setiadi

Gabriel Aries Setiadi (b. 1984) completed his studies at the Department of Fine Art, Bandung Institute of Technology (ITB). He then completed his master's degree also at the Fine Art Study Program, Bandung Institute of Technology. Gabriel focuses on exploring the inclusion of new materials into his artistic practice,

which previously concentrated on stone carving. The inclusion of polyresin and acrylic sheets enables him to discuss contradiction and opposition, and the possibilities to establish balance and harmony from two contradictory entities.

Gabriel has participated in several national and international exhibitions. He has also participated in artist residency programs at Sungai Segget Public Art Programs, Johor Bahru, Malaysia (2017). In 2018, Gabriel did two solo exhibitions in a row, KONTRAS MATERI (Orbital Dago, Bandung), and SELA SAWALA (CG Art Space, Jakarta). He also finished his Commission Work for Site-Specific Installation on Salihara International Performing Arts Festival in the same year (2018). Gabriel is also involved in the Art Jakarta Garden exhibition for the last 3 years, 2022, 2023, and 2024. Gabriel recently held another solo exhibition titled "Poetical Urgency."